"Jadi pulang kan, nang? Sampe Bandung jam berapa?" Ibuku orang jawa tulen, masih memanggilku dengan sebutan anak lanang, anak lelaki.
Aku membalas singkat pesan itu. Sudah seminggu ini ibuku memaksaku untuk pulang. Tidak seperti biasanya ibu memintaku sekeras itu. Aku sudah tahu alasannya. Pasti karena gadis yang ibuku temui beberapa waktuu lalu. Entah apa yang ada di gadis itu sampai-sampai adikku pun ikut antusias menungguku pulang dan mengenalkan dia padaku.
"Kamu pasti suka, Nang. Orangnya cantik,pinter,ramah lagi." Kata ibuku berpromosi disambut dengan teriakan setuju adikku saat menelpon seminggu yang lalu.
"Kamu pasti kalo kenal dia langsung suka. Shinta ga ada apa-apanya."
Aku langsung kehilangan antusiasme untuk melanjutkan pembicaraan. Shinta. Kenapa nama itu masih saja disebut. Padahal alasanku untuk pindah ke luar kota adalah agar aku tidak bertemu atau mendengar kabarnya lagi.
Ingatanku melayang ke beberapa tahun yang lalu. Malam itu aku sengaja menjemput Shinta ke tempat kerjanya tanpa memberitahunya.
Sebuah buket bunga dan kartu ucapan aku persiapkan sebagai kejutan saat dia keluar dari gedung berlantai lima itu. Mawar hijau yang sengaja aku pesan,hijau adalah warna kesukaan kami.
Berkali-kali pintu itu terbuka, namun bukan Shinta yang keluar. Hampir satu jam aku berdiri seperti orang bodoh memegang buket bunga. Akhirnya Shinta keluar. Aku tersenyum padanya,namun wajahnya terkejut dan nampak salah tingkah. Kejutanku berhasil, pikirku sampai ada seorang pria menghampiri Shinta dan merangkul bahunya.
Pria itu melihat keterkejutan di wajah Shinta dan melihat ke arahku yang masih memegang buket bunga, 'Siapa dia?' Katanya.
Aku langsung bisa mengetahui apa yang terjadi,ku hampiri mereka berdua. "Hey, baru pulang ya? Ini untuk kamu. Kamu suka warna hijau kan?".
Shinta masih diam namun menerima bunga dariku. Lelaki itu kemudian bersuara, "Sejak kapan kamu suka hijau,Shin? Kamu kan suka mawar merah."
Aku langsung berbalik pergi dan melaju dengan mobilku sambil menahan rasa sakit di dadaku. Bahkan warna kesukaannya pun dia bohong. Harusnya aku mendengar kata-kata temanku, Shinta hanya ingin uangku saja, padahal selama ini dia sering terlihat berdua dengan lelaki lain. Tapi rasa cintaku yang begitu besar menutupi telingaku sehingga tidak mempercayai itu semua.
Sesampainya aku di rumah, aku pacu mobilku. Satu hal yang aku rindu dari segala hal yang ada di kota ini, mobilku. Mobil tua yang aku bangun dari rongsokan hingga sekarang menjadi mobil pemenang drag race. Setiap inchi dari mobil ini sudah terkena modifikasi, terutama mesin. Hanya bodi saja yang aku pertahankan agar tetap orisnil.
Mobil ini satu-satunya temanku saat aku kesepian,dan aku tidak yakin akan ada wanita yang bisa mengerti kegilaanku terhadap modifikasi mesin tungganganku. Ah mereka tahu dimana radiator saja sudah untung.
"Nang, nanti jangan lupa jam 4 kita ketemu sama Naima, ya?" Pesan ibuku sebelum aku cepat-cepat pergi dari rumah dan melarikan mobilku ke bengkel langgananku. Siapa sih Naima itu? Dari namanya saja sudah aneh, mengingatkanku pada Soimah. Sinden yang sekarang sedang beken di televisi.
Naima,dalam bahasa arab artinya wajah yang berseri-seri, tapi entah seperti apa wajahnya nanti. Aku tidak percaya perjodohan bisa berlangsung baik.
Pukul 2 lebih sepuluh ibuku sudah cerewet, menelponku terus menerus dan menyuruhku pulang. "Nang, cepat pulang, terus kamu siap-siap berangkat bareng ibu ketemu Naima ya?"
Ah ibuku memang begitu, tidak akan berhenti menggangguku sebelum keinginannya terpenuhi. Pukul 3 aku sudah siap menuju tempat pertemuan dengan ibuku.
"Apa yang kamu pakai itu?" Ibuku terkejut dengan jeans sobek dan T-shirt yang aku pakai. Lima belas menit kemudian aku mengalah setelah perdebatan panjang mengenai apa yang harus aku pakai. Akhirnya aku mengganti bajuku dengan kemeja casual dan celana jeans yang tidak sobek.
Pukul 4 lebih tapi Naima belum juga datang. Orang seperti apa itu tidak menghargai orang yang di temui dengan datang tepat waktu. Hampir setengah lima sore akhirnya datang sosok mungil dengan rambut diikat asal dan kemeja serta rok selutut yang sedikit lecek.
"Itu dia orangnya,kamu pasti suka." Kata ibuku sambil melambai ke arah gadis mungil itu.
Cantik darimana fikirku. Ibuku pasti salah lihat. Cewek sembrawut seperti ini masa dibilang cantik.
"Maaf tante, tadi tiba-tiba ada pasien emergency yang harus saya tangani dulu. Jadi agak terlambat."
Oh, dokter. Pasti tipe kutu buku yang kurang gaul. Berani bertaruh dia tidak tahu menahu soal musik apalagi mesin. Lima belas menit aku hanya diam dan mendengarkan ibuku berbincang dengan Naima. Senyumnya manis juga meski tampangnya kusut sepertii kurang tidur.
"Naima ini sedang ambil spesialis lho, Nang. Makanya tadi malam ndak pulang. Habis piket jaga ya?" Ibuku mencoba melibatkanku dalam pembicaraan mereka.
"Iya, ada pasien kecelakaan yang butuh diobservasi seharian,makanya aku belum sempat pulang. Maaf ya?" Katanya sambil tersenyum.
Aku gelagapan karena dari tadi aku hanya melamun dan memperhatikan dia. Tidak menyimak apapun yang mereka katakan.
"Eh sudah jam segini, ibu pulang ya? Kalian teruskan saja ngobrol-ngobrolnya, biar ibu pulang naik taksi."
Apa?! Ibu membiarkanku berdua dengan dia? Dalam hati aku kesal karena harus terjebak dalam skenario ibuku sendiri. Harusnya sejak awal aku menolak ikut dalam perjodohan ini.
Sepeninggal ibuku dengan rencanaku, aku mencoba mengajaknya bicara. Aku akan buat dia bosan setengah mati sampai dia menolak untuk bertemu lagi denganku.
"Antar aku ke suatu tempat ya?" Ajakku. Dia hanya mengangguk.
"Wow. Eterna two tone 92 ya?" Celetuknya setelah melihat mobilku. Aku terkejut saat melihatnya mengelilingi mobil dan memeriksanya dengan seksama seperti dia memeriksa pasiennya.
"Pake mesin apa? Pasti udah di modif ya? Masih N/A?" Katanya dengan mata berbinar melihat bodi mobilku yang tanpa cacat. Apa ini? Makhluk dari mana ini bisa mengerti tentang mobil?
"Cuma 4G63." Jawabku masih terpana.
"Bannya 17 kan? Suspensi pake apa?"
"Monroe"
"Cool! Nyampe 175 horse power?"
"180." Aku tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ibu, kamu memang pintar memilih pasangan untuk anakmu.
Naima berdiri kebingungan melihatku yang tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Ada yang salah?" Tanyanya.
"Ah tidak. Dari mana kamu bisa tahu tentang mesin?" Naima hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan tersenyum penuh rahasia. Aku tidak menyerah sampai situ. Aku buka kap mesinku dan melihat reaksinya. Jika dia menghafal semua itu, pasti dia tidak akan bereaksi apapun.
"Hwow!" Pekiknya "Pivot, unichip type q+, apa lagi ini? Keren!" Dan dia mulai bicara panjang sambil menilai mesinku. Yap! Dia memang mengerti. Aku tertawa dan berdiskusi panjang mengenai mesin sejak itu. Saat itu aku merasa menemukan Cinderellaku.
Aku tak bisa melepaskan pandanganku dan berhenti dari keterkejutanku. Ibu, aku ingin memelukmu saat ini juga. Ibuku memang paling mengerti tipeku. Pasti nanti aku cium pipinya saat pulang.
Published with Blogger-droid v1.7.4